Aceh Timur (13/06/2026) – Guru dan tenaga kependidikan MAN 1 Aceh Timur mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam Penguatan Budaya Madrasah Digital yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta sekaligus memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan humanis.

Dalam sambutannya, Kepala MAN 1 Aceh Timur, Razali, S.Pd menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi digital. Menurutnya, para pendidik harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman agar tidak tertinggal.
“Era sekarang menuntut kita untuk serba digital. Jika tidak mampu beradaptasi, maka kita akan tertinggal. Melalui bimtek ini kita dapat belajar bersama, terlebih saat ini berbagai pekerjaan menjadi lebih mudah dengan hadirnya teknologi AI,” ujarnya.
Sementara itu, Plh. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur, Sadli, S.Pd.I dalam arahannya menekankan pentingnya peran guru yang bekerja dengan hati nurani. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajar, tetapi juga oleh kemampuan membangun komunikasi emosional dengan peserta didik.

Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai upaya menghadirkan pendidikan yang lebih humanis dan penuh empati. Guru dituntut untuk memahami kondisi peserta didik, terus belajar sepanjang hayat, serta membiasakan nilai-nilai kesopanan dalam kehidupan sehari-hari di madrasah.
“Substansi KBC tidak selalu harus diwujudkan dalam hal yang besar. Kebiasaan sederhana seperti menyambut dan bersalaman dengan tamu yang datang ke sekolah juga merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai cinta dan penghormatan kepada sesama,” jelasnya.
Pada sesi materi, narasumber Finsa Firlana Gusmara, S.Si. menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi pelajaran. Guru juga harus mampu membangun dialog yang baik dengan peserta didik agar dapat memahami kondisi dan latar belakang mereka secara lebih mendalam.

Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap kondisi peserta didik sangat penting agar guru tidak terburu-buru memberikan penilaian atau menghakimi siswa tanpa mengetahui permasalahan yang mereka hadapi.

Selain membahas implementasi KBC, peserta juga mendapatkan pelatihan pemanfaatan teknologi AI dalam dunia pendidikan. Guru diperkenalkan dengan berbagai aplikasi berbasis AI yang dapat digunakan untuk menyusun bahan ajar, membuat media pembelajaran, hingga merancang permainan edukatif (games) yang mampu menciptakan suasana belajar lebih menyenangkan dan interaktif.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para guru menyambut baik materi yang diberikan karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan di era digital saat ini. Dengan adanya bimtek ini, diharapkan para pendidik mampu mengintegrasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dengan pemanfaatan teknologi AI sehingga dapat melahirkan generasi madrasah yang berakhlak mulia, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.








